Sabtu, 12 Januari 2019

Petani yang Tersingkir di Tepian Kota

Sudah beberpa bulan ini penulis berpindah tempat tinggal di daerah baru. Kebetulan penulis tinggal di daerah pinggir kota yang jauh dari hiruk pikuk. Kebetulan sekarang telah aktunya masa penghujan, di daerah sekeliling perumahan yang dulunya adalah lahan kosong semula saya yakini sebagai lahan milik perumahan yang belum terpakai karena banyaknya perumahan dan lahan kosong tersebut dibiarkan kosong tanpa ditanami apa-apa. Setelah musim penghujan datangternyata laha yang kosong tersebut penulis ketahui adanya bahwa tanah tersebut merupakan sawah tadah hujan yang hanya berfungsi saat musim hujan. Tanah-tanah yang kosong tersebut terpisah-pisah dengan bangunan perumahan dan cluster dari beberapa pengembang. Beberapa cafe dan kedai kopi modern yang biasa ramai ketika akhir pekan hingga adanya hotel tinggi menjulang yang nampak dari areal persawahan.

Akhir-akhir ini setiap pagi penulis melewatinya banyak ibu-ibu dan bapak-bapak petani sedang sibuk bercocok tanam pada lahan yang sempit dan tersekat-sekat oleh adanya pembangunan yang merambah ke pinggir kota. Entah berapa penghasilan mereka dari jerih payah sebagai petani dengan lahan yang sempit, yang entah milik sendiri atau bukan. Saya menyadari bahwa dibandingkan dengan ketangguhan mereka penulis tidak ada apa-apanya, penulis menyadari akan kedhaifan diri sendiri.

Masih ingat rasanya beberapa bulan yang lalu pada sebuah forum online yang tentunya berisikan banyak orang dari beberapa negara, ada seorang “petani” dari Afrika yang mengeluhkan mengenai minimnya pendapatan yang didapatkan dari lahannya yang sekian ribu meter persegi. Orang tersebut menyerahkan pengelolaan lahan kepada orang lain sedangkan ianya memiliki pekerjaan lain. Dari lahan tersebut ditanamai tanaman pangan yang kemudian hasilnya akan dijual dan hasilnya akan dibagi dengan yang mengelola lahan secara langsung. Pembuat artikel tersebut mengeluhkan tentang beberapa hal yang pada ujungnya adalah rendahnya pendapatan dari pertaniannya.

Kemudian salah satu akun berkomentar mengenai situasinya, pemberi komentar juga memiliki lahan pertanian. Dari komentar yang dibuat itu pada intinya adalah bahwa sektor pertanian yang digelutinya juga menghasilkan penghasilan yang minim pada luasan yang sama, namun kata orang tersebut penghasilannya menjadi mencukupi akibat luasan lahan yang dikelola adalah berkali-kali lipat dari pada yang mengeluhkan keadaanya. Selain itu teknologi yang dipakai dalam pertaniannya menjadikan biaya yang dipakai menjadi minim sehingga hasilnya akan banyak pula.

Penulis menyadari akan benarnya pernyataan tersebut. Akan tetapi mana mungkin petani kecil mengelola lahan yang sangat luas dan dari mana mereka mendapatkan teknologi yang canggih untuk pertanian mereka? Sedangkan derasnya arus pembangunan menggerus lahan pertanian. Dan dengan banyaknya alih fungsi tersebut berefek pada mininya infrastruktur pertanian yang akan dibangun oleh dinas terkait. Pada ujungnya mereka akan menjerit dengan mata pencaharian yang keadaannya semakin tergerus.


Penulis juga dengan enaknya sempat berpikir, kenapa tidak merka jual saja lahannya dan uangnya digunakan untuk modal berdagang atau dibelikan tanah yang lebih luas di daerah lain. Lambat laun jika dipikirkan hal tersebut tidak serta merta benar. Beralih profesi bukanlah suatu yang mudah dan resiko kegagalan juga besar, jadi dengan modal yang ada bisa jadi bukannya untung malah merugi. Berpindah tempat tinggal juga bukanlah hal yang mudah karena mungkin kelarga ada yang mesti tinggal di daerah tersebut dengan satu alasan atau alsan lainnya. Demikian artikel ini dibuat tanpa memberikan solusi yang dapat baik, semoga pembaca dapat memberikan solusi yang harapannya akan dibaca oleh orang lain dan dapat deterapkan secara langsung. Silakan tinggalkan pendapat pembaca pada kolom komentar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar