Sudah beberpa bulan ini penulis berpindah tempat tinggal di
daerah baru. Kebetulan penulis tinggal di daerah pinggir kota yang jauh dari
hiruk pikuk. Kebetulan sekarang telah aktunya masa penghujan, di daerah
sekeliling perumahan yang dulunya adalah lahan kosong semula saya yakini
sebagai lahan milik perumahan yang belum terpakai karena banyaknya perumahan
dan lahan kosong tersebut dibiarkan kosong tanpa ditanami apa-apa. Setelah musim
penghujan datangternyata laha yang kosong tersebut penulis ketahui adanya bahwa
tanah tersebut merupakan sawah tadah hujan yang hanya berfungsi saat musim
hujan. Tanah-tanah yang kosong tersebut terpisah-pisah dengan bangunan
perumahan dan cluster dari beberapa pengembang. Beberapa cafe dan kedai kopi
modern yang biasa ramai ketika akhir pekan hingga adanya hotel tinggi menjulang
yang nampak dari areal persawahan.
Akhir-akhir ini setiap pagi penulis melewatinya banyak
ibu-ibu dan bapak-bapak petani sedang sibuk bercocok tanam pada lahan yang
sempit dan tersekat-sekat oleh adanya pembangunan yang merambah ke pinggir
kota. Entah berapa penghasilan mereka dari jerih payah sebagai petani dengan
lahan yang sempit, yang entah milik sendiri atau bukan. Saya menyadari bahwa
dibandingkan dengan ketangguhan mereka penulis tidak ada apa-apanya, penulis menyadari
akan kedhaifan diri sendiri.
Masih ingat rasanya beberapa bulan yang lalu pada sebuah
forum online yang tentunya berisikan banyak orang dari beberapa negara, ada
seorang “petani” dari Afrika yang mengeluhkan mengenai minimnya pendapatan yang
didapatkan dari lahannya yang sekian ribu meter persegi. Orang tersebut
menyerahkan pengelolaan lahan kepada orang lain sedangkan ianya memiliki
pekerjaan lain. Dari lahan tersebut ditanamai tanaman pangan yang kemudian
hasilnya akan dijual dan hasilnya akan dibagi dengan yang mengelola lahan
secara langsung. Pembuat artikel tersebut mengeluhkan tentang beberapa hal yang
pada ujungnya adalah rendahnya pendapatan dari pertaniannya.
Kemudian salah satu akun berkomentar mengenai situasinya,
pemberi komentar juga memiliki lahan pertanian. Dari komentar yang dibuat itu
pada intinya adalah bahwa sektor pertanian yang digelutinya juga menghasilkan
penghasilan yang minim pada luasan yang sama, namun kata orang tersebut
penghasilannya menjadi mencukupi akibat luasan lahan yang dikelola adalah
berkali-kali lipat dari pada yang mengeluhkan keadaanya. Selain itu teknologi
yang dipakai dalam pertaniannya menjadikan biaya yang dipakai menjadi minim
sehingga hasilnya akan banyak pula.
Penulis menyadari akan benarnya pernyataan tersebut. Akan tetapi
mana mungkin petani kecil mengelola lahan yang sangat luas dan dari mana mereka
mendapatkan teknologi yang canggih untuk pertanian mereka? Sedangkan derasnya
arus pembangunan menggerus lahan pertanian. Dan dengan banyaknya alih fungsi
tersebut berefek pada mininya infrastruktur pertanian yang akan dibangun oleh
dinas terkait. Pada ujungnya mereka akan menjerit dengan mata pencaharian yang
keadaannya semakin tergerus.
Penulis juga dengan enaknya sempat berpikir, kenapa tidak
merka jual saja lahannya dan uangnya digunakan untuk modal berdagang atau
dibelikan tanah yang lebih luas di daerah lain. Lambat laun jika dipikirkan hal
tersebut tidak serta merta benar. Beralih profesi bukanlah suatu yang mudah dan
resiko kegagalan juga besar, jadi dengan modal yang ada bisa jadi bukannya
untung malah merugi. Berpindah tempat tinggal juga bukanlah hal yang mudah
karena mungkin kelarga ada yang mesti tinggal di daerah tersebut dengan satu
alasan atau alsan lainnya. Demikian artikel ini dibuat tanpa memberikan solusi
yang dapat baik, semoga pembaca dapat memberikan solusi yang harapannya akan
dibaca oleh orang lain dan dapat deterapkan secara langsung. Silakan tinggalkan
pendapat pembaca pada kolom komentar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar